Rara’s Craft ^^

Posted On Januari 26, 2012

Filed under pernik flanel

Comments Dropped leave a response

welcome to my simple blog !! -_-
sekedar crita nih, buat iseng2 ngabisin waktu liburan kuliah aq tertarik sm flanel2 yg Lucu2 “n wrna warni gtu deh, jdi muncul ide buat bikin “pernak-pernik felt handycraft”. awalnya cuma coba2, aja eh lama2 kog pngen bikin yg belum prnh aq bkin. waw’ya lagi anak2 sekolah bnyk yg tertarik hihihih 😀 lumayan bwt kerjaan, nah Ini hasillnyaaa…. taraaaaaa.! 😀

Dari sini kalo sista or brada ada yg tertarik bisa kog hubungi aq via email ke alamat ini: isnainicandrawati@ymail.com
atau bisa juga lewat efbeQ di link ini yah:
http://www.facebook.com/profile.php?id=100001017573928

thx for visit. 😉

Iklan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOTOKSIKOLOGI

Posted On Januari 6, 2012

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

LAPORAN PRAKTIKUM
MATA KULIAH EKOTOKSIKOLOGI
“IDENTIFIKASI FORMALIN PADA OTAK-OTAK IKAN”

Disusun oleh:

Isnaini Candrawati (B1003028)

PRAGRAM STUDI DIII KESEHATAN LINGKUNGAN
POLITEKNIK BANJARNEGARA
TAHUN 2011

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pangan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi manusia untuk bias tetap mempertahankan hidup. Tidak heran jika saat ini industri pangan di Indonesia menjadi usaha yang banyak digeluti masyarakat. Kualitas makanan ditinjau dari segi mikrobiologis, fisik dan kandungan gizinya. Namun kebanyakan masyarakat menjadikan kualitas fisik makanan sebagai modal utama agar makanan banyak diminati konsumen. Dalam mencapai kualitas fisik makanan yang baik terkadang didapati para tangan-tangan produsen yang tidak bertanggung jawab. Pemberian bahan tambahan pangan terkadang dilakukan agar kualitas fisik makanan terlihat baik. Bahan tambahan pangan seperti zat pewarna, pengeras, penyedap dan penguat rasa banyak diberikan tanpa mengindahkan dampak yang akan dialami konsumen yang mengkonsumsinya. Bahan tambahan yang biasa digunakan adalah boraks dan formalin.
Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Disektor industri sebenarnya formalin sangat banyak mamfaatnya. Formaldehid mempunyai banyak mamfaat untuk pembersih lantai, kapal, gudang-gudang, pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga. Dalam makalah ini akan dikaji mengenai permasalahan pokok tentang formalin. Mengenai masalah formalin, perhatian pemerintah kita sangat baik, karena selain digunakan dalam sektor industri, formalin juga disalahgunakan untuk keperluan lain seperti pengawetan makanan yang sangat tidak baik apabila di konsumsi oleh tubuh manusia. Formalin sangat berbahaya jika dihirup , mengenai kulit dan tertelan. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang maka formadehid dapat merusak hati, ginjal, limpa, pankreas ,dll.
B. Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu untuk:
1. Mengetahui kandungan formalin pada otak-otak ikan
2. Mengetahui metode atau cara pengujian formalin pada otak-otak ikan
3. Mengetahui jenis-jenis bahan makanan lain yang menjadi sasaran penggunaan formalin.

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2011 pukul 09.00-11.00 WIB di laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pangan
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan ataupun minuman bagi konsumsi manusia. Termasuk di dalamnya adalah bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan atau pembuatan makanan atau minumam (Saparinto dan Hidayati, 2006).
Kualitas pangan dapat ditinjau dari aspek mikrobiologis, fisik (warna, bau, rasa dan tekstur) dan kandungan gizinya. Pangan yang tersedia secara alamiah tidak selalu bebas dari senyawa yang tidak diperlukan oleh tubuh, bahkan dapat mengandung senyawa yang merugikan kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Senyawa-senyawa yang dapat merugikan kesehatan dan tidak seharusnya terdapat di dalam suatu bahan pangan dapat dihasilkan melalui reaksi kimia dan biokimia yang terjadi selama pengolahan maupun penyimpanan, baik karena kontaminasi ataupun terdapat secara alamiah. Selain itu sering dengan sengaja ditambahkan bahan tambahan pangan (BTP) atau bahan untuk memperbaiki tekstur, warna dan komponen mutu lainnya ke dalam proses pengolahan pangan (Hardiansyah dan Sumali, 2001).
Berdasarkan cara perolehannya, pangan dapat dibedakan menjadi 3 (Saparinto dan Hidayati, 2006) :
(1) Pangan segar
Pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan. Pangan segar dapat dikonsumsi langsung ataupun tidak langsung.
(2) Pangan Olahan
Pangan olahan adalah makanan atau minuman hasil proses pengolahan dengan cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan. Contoh: teh manis, nasi, pisang goreng dan sebagainya. Pangan olahan bisa dibedakan lagi menjadi pangan olahan siap saji dan tidak siap saji.
(3) Pangan olahan tertentu
Pangan olahan tertentu adalah pangan olahan yang diperuntukkan bagi kelompok tertentu dalam upaya memelihara dan meningkatkan kualitas kesehatan. Contoh: ekstrak tanaman stevia untuk penderita diabetes, susu rendah lemak untuk orang yang menjalani diet rendah lemak dan sebagainya.

B. Keamanan Pangan
Untuk melaksanakan Undang-Undang nomor 7 tahun 1996 dan memberikan perlindungan kepada masyarakat maka pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Pangan yang aman serta bermutu dan bergizi tinggi penting perannya bagi pertumbuhan, pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan serta peningkatan kecerdasan masyarakat (Cahyadi, 2008).
Karena keamanan pangan muncul sebagai suatu masalah yang dinamis seiring dengan berkembangnya peradaban manusia dan kemajuan ilmu dan teknologi, maka diperlukan suatu sistem dalam mengawasi pangan sejak diproduksi, diolah, ditangani, diangkut, disimpan dan didistribusikan serta dihidangkan kepada konsumen. Toksisitas mikrobiologik dan toksisitas kimiawi terhadap bahan pangan dapat terjadi pada rantai penanganan pangan dari mulai saat pra-panen, pascapanen/pengolahan sampai saat produk pangan didistribusikan dan dikonsumsi (Seto, 2001).
Sistem pangan yang ada saat ini meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan peraturan, pembinaan atau pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi makanan dan peranannya sampai siap dikonsumsi manusia. Setiap orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan produksi pangan wajib memenuhi persyaratan sanitasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku (Saparinto dan Hidayati, 2006).
Untuk itu keamanan pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kurangnya perhatian terhadap hal ini telah sering mengakibatkan terjadinya dampak berupa penurunan kesehatan konsumennya, mulai dari keracunan makanan akibat tidak higienisnya proses penyiapan dan penyajian sampai resiko munculnya penyakit kanker akibat penggunaan bahan tambahan (food additive) yang berbahaya (Syah, 2005).

C. Bahan Tambahan Pangan
BTP adalah bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur dan memperpanjang daya simpan. Selain itu, juga dapat meningkatkan nilai gizi seperti protein, mineral dan vitamin (Widyaningsih dan Murtini, 2006).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/1988, Bahan Tambahan Pangan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredient khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi (temasuk organoleptik) pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan (langsung atau tidak langsung) suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut (Budiyanto, 2004).
Penggunaan bahan tambahan pangan dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai bersama, baik oleh produsen maupun oleh konsumen. Dampak penggunaanya dapat berakibat positif maupun negatif bagi masyarakat. Penyimpangan dalam penggunaannya akan membahayakan kita bersama, khusunya generasi muda sebagai penerus pembangunan bamgsa. Di bidang pangan kita memerlukan sesuatu yang lebih baik untuk masa yang akan datang, yaitu pangan yang aman untuk dikonsumsi, lebih bermutu, bergizi dan lebih mampu bersaing dalam pasar global. Kebijakan keamanan pangan (food safety) dan pembangunan gizi nasional (food nutrient) merupakan bagian integral dari kebijakan pangan nasional, termasuk pengunaan bahan tambahan pangan (Cahyadi, 2008).
Fungsi dasar bahan tambahan pangan yaitu (Hughes, 1987):
(1) Untuk mengembangkan nilai gizi suatu makanan, biasanya untuk makanan diet denganjumlah secukupnya. Di banyak negara, termasuk Amerika dan Inggris, nutrisi tertentu harus ditambahkan ke dalam makanan pokok berdasarkan peraturan mereka.
(2) Untuk mengawetkan dan memproduksi makanan.
Demi kesehatan kita dan untuk mencegah penggunaan bumbu dengan masa singkat dan fluktuasi harga, sangatlah penting makanan itu dibuat mampu menahan pengaruh racun dalam jangka waktu selama mungkin.
(3) Menolong produksi
Fungsi ini memiliki peranan yang penting untuk menjamin bahwa makanan di proses seefisien mungkin dan juga dapat menjaga keadaan makanan selama penyimpanan.
(4) Untuk memodifikasi pandangan kita.
Bahan tambahan ini mengubah cara kita memandang, mengecap, mencium, merasa dan bahkan mendengar bunyi makanan yang kita makan (kerenyahan). Ada dua alasan utama mengapa menggunakan bahan tambahan ini, pertama karena ekonomi, misalnya makanan dengan bahan dan bentuk yang kurang bagus dapat dibuat lebih menarik dengan meniru produksi yang lebih berkualitas. Kedua, adalah karena permintaan publik, misalnya dalam masakan modern dimana bahan makanan dasar dimodifikasi.

Pada umumnya bahan tambahan pangan dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu:
(1) Aditif sengaja : yaitu aditif yang diberikan dengan sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu, misalnya untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi, cita rasa, mengendalikan keasaman atau kebasaan, memantapkan bentuk atau rupa dan lain sebagainya.
(2) Aditif tidak sengaja, yaitu aditif yang terdapat dalam makanan dalam jumlah sangat kecil sebagai akibat dari proses pengolahan.

Bila dilihat dari asalnya, aditif dapat berasal dari sumber alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain sebagainya, dapat juga disintesis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa benar dengan bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia maupun sifat metabolismenya seperti misalnya β-karoten, asam askorbat, dan lain-lain. Pada umumnya bahan sintetik mempunyai kelebihan yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogenik yang dapat merangsang terjadi kanker pada hewan atau manusia (Winarno, 1992).

Bahan tambahan pangan yang diizinkan untuk digunakan pada makanan berdasarkan Permenkes No. 722/Menkes/Per/IX/1988 adalah (Fardiaz, 2007):
(1) Anti oksidan dan oksidan sinergisi
Bahan tambahan pangan yang digunakan untuk mencegah terjadinya proses oksidasi. Contoh : asam askorbat dan asam eritrobat serta garamnya untuk produk daging, ikan dan buah-buahan kaleng. Butilhidroksi anisol (BHA) atau butilhidroksi toluen (BHT) untuk lemak, minyak dan margarin.
(2) Anti kempal
Bahan tambahan pangan yang dapat mencegah mengempalnya makanan yang berupa serbuk, tepung atau bubuk. Contoh: Ca silikat, Mg karbonat, dan SI dioksida untuk merica dan rempah lainnya. Garam stearat dan tri Ca fosfat pada gula, kaldu dan susu bubuk.
(3) Pengatur keasaman
Bahan tanbahan pangan yang dapat mengasamkan, menetralkan, dan mempertahankan derajat keasaman makanan. Contoh: Asam laktat, sitrat, dan malat digunakan pada jeli. Natrium bikarbonat, karbonat, dan hidroksida digunakan sebagai penetral pada mentega.
(4) Pemanis buatan
Bahan tambahan pangan yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan yang tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi. Contoh: sakarin dan siklamat.
(5) Pemutih dan pematang tepung
Bahan tambahan pangan yang dapat mempercepat proses pemutihan tepung dan atau pematangan tepung hingga dapat memperbaiki mutu penanganan.
(6) Pengemulsi, pemantap dan pengental
Bahan tambahan pangan yang dapat membantu terbentuknya atau memantapkan sistem dispersi yang homogen pada makanan. Biasa digunakan untuk makanan yang mengandung air atau minyak. Contoh: polisorbat untuk pengemulsi es krim dan kue, peltin untuk pengental pada jamu, jeli, minuman ringan dan es krim, gelatin pemantap dan pengental untuk sediaan keju, karagenen dan agar-agar untuk pemantap dan pengental produk susu dan keju.
(7) Pengawet
Bahan tambahan pangan yang dapat mencegah fermentasi, pengasaman atau penguraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme. Biasa ditambahkan pada makanan yang mudah rusak atau yang disukai sebagai medium pertumbuhan bakteri atau jamur. Contoh: asam benzoat dan garamnya dan ester para hidroksi benzoat untuk produk buah-buahan, kecap, keju dan margarin, asam propionat untuk keju dan roti.
(8) Pengeras
Bahan tambahan pangan yang dapat memperkeras atau mencegah lunaknya makanan. Contoh: Al sulfat, Al Na sulfat untuk pengeras pada acar ketimun dalam botol, Ca glukonat dan Ca sulfat pada buah kaleng seperti tomat dan kaleng.
(9) Pewarna
Bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan. Contoh: karmin, ponceau 4R, eritrosin warna merah, green FCF, green S warna hijau, kurkumin, karoten, yellow kuinolin, tartazin warna kuning dan karamel warna coklat.
(10) Penyedap rasa dan aroma serta penguat rasa
Bahan tambahan pangan yang dapat memberikan, menambahkan atau mempertegas rasa dan aroma. Contoh: monosodium glutamat pada produk daging.
(11) Sekuestran
Bahan tambahan pangan yang dapat mengikat ion logam yang ada pada makanan sehingga dicegah terjadinya oksidasi yang dapat menimbulkan perubahan warna dan aroma. Biasa ditambahkan pada produk lemak dan minyak atau produk yang mengandung lemak atau minyak seperti daging dan ikan. Contoh: asam folat dan garamnya.

BTP yang tidak diizinkan atau dilarang digunakan dalam makanan menurut Permenkes RI No.1168/Menkes/Per/X/1999 adalah (Cahyadi, 2008):
1. Natrium tetraborat (boraks)
2. Formalin (formaldehyd)
3. Minyak nabati yang dibrominasi (brominated vegetable oils)
4. Kloramfenikol (chloramphenicol)
5. Kalium klorat (potassium chlorate)
6. Dietilpirokarbonat (diethylepirokarbonate DEPC)
7. Nitrofurazon (nitrofurazone)
8. P-Phenetilkarbamida (p-phenethycarbamide, dulcin, 4-ethoxyphenyl urea)
9. Asam salisilat dan garamnya (salicylic acid andm its salt)
10. Rhodamin B (pewarna merah)
11. Methanil yellow (pewarna kuning)
12. Dulsin (pemanis sintesis)
13. Potasium bromat (pengeras).

D. Formalin atau Formaldehyde
1. Pengertian Formalin/Formaldehyde
Senyawa kimia Formaldehid (juga disebut metanal), merupakan aldehida berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO. Formaldehid awalnya disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867. Formaldehid bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon. Terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehid dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Formaldehid dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia. Meskipun dalam udara bebas Formaldehid berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang ‘formalin’ atau ‘formol’ ). Dalam air, Formaldehid mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi polimerisasinya. Formalin adalah larutan Formaldehid dalam air, dengan kadar antara 10%-40%. Formaldehid menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehid merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, Formaldehid bisa mengalami reaksi Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol.
Formalin biasanya diperdagangkan di pasaran dengan nama berbeda beda antara lain :
• Formol
• Morbicid
• Methanal
• Formic aldehyde
• Methyl oxide
• Oxymethylene
• Methylene aldehyde
• Oxomethane
• Formoform
• Formalith
• Karsan
• Methylene glycol
• Paraforin
• Polyoxymethylene glycols
• Superlysoform
• Tetraoxymethylene
• Trioxane
• Pada dasarnya formalin digunakan sebagai :
• Pengawet mayat
• Pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya.
• Bahan pembuatan sutra sintetis, zat pewarna, cermin, kaca
• Pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam dunia Fotografi.
• Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
• Bahan untuk pembuatan produk parfum.
• Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.
• Pencegah korosi untuk sumur minyak
• Dalam konsentrasi yang sangat kecil (kurang dari 1%), Formalin digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih barang rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut kulit, perawatan sepatu, shampoo mobil, lilin, dan pembersih karpet. (Arif Fadholi, 2009)

2. Sifat Formaldehyde
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang ‘formalin’ atau ‘formol’ ). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi polimerisasinya. Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%.
Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol. Formaldehida bisa membentuk trimer siklik, 1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena. Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat gas ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin.
Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara. (Wikipedia, 2011)
Formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol. Beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut:
• Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan, sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru.
• Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal dan kulit terbakar.
• Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan.
• Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan syaraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian. (Ocita, 2011)
3. Penyalahgunaan Formalin
Melalui sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan yang menggunakan formalin sebagai pengawet. Praktek yang salah seperti ini dilakukan produsen atau pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab. Beberapa contoh produk yang sering mengandung formalin misalnya ikan segar, ayam potong, tahu, mie basah dan ikan asin yang beredar di pasaran. Adapun Dasar hukum yang melarang penggunaan formalin di antaranya UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen. Formalin dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999, Peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan.
Berikut ini terdapat beberapa ciri penggunaan formalin, walaupun tidak terlampau khas untuk mengenali pangan formalin, namun dapat membantu membedakannya dari pangan tanpa formalin.
 Ciri-ciri mi basah yang mengandung formalin :
 Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar (25 derajat celcius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celcius)
 Bau agak menyengat, bau formalin
 Tidak lenggket dan mie lebih mengkilap dibanding mie normal
 Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin :
 Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat celsius) dan tahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celsius)
 Tahu terlampau keras, namun tidak padat
 Bau agak menyengat, bau formalin
 Ciri-ciri bakso yang mengandung formalin
 Tidak rusak dampai lima hari pada suhu kamar (25 derajat celcius)
 Tekturnya sangat kenyal
 Ciri-ciri ikan segar yang mengandung formalin :
 Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat celsius)
 Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih
 bau sangat menyengat, bau formalin
 Ciri-ciri ikan asin yang mengandung formalin :
 Tidak mudah rusak lebih dari 1 bulan pada suhu kamar (25 derajat celcius)
 Bersih cerah
 Tidak berbau khas ikan asin (Andri, 2009)

4. Dampak Formalin Bagi Tubuh Manusia
` Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan pernapasan. Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar. Polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. Asap rokok atau air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga mengandung formalin. Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia. Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh. Formalin merupakan zat yang bersifat karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan pengingkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan.
Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Usia anak khususnya bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan ini. Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya tersebut. Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak, usus imatur (belum sempurna) atau sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk dikeluarkan. Hal ini juga akan lebih mengganggu pada penderita gangguan saluran cerna yang kronis seperti pada penderita Autism, penderita alergi dan sebagainya. Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. IPCS adalah lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi. Bila formalin masuk ke tubuh melebihi ambang batas tgersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ dan system tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui hirupan, kontak langsung atau tertelan.
Akibat jangka pendek yang terjadi biasanya bila terpapar formalin dalam jumlah yang banyak, Tanda dan gejala akut atau jangka pendek yang dapat terjadi adalah bersin, radang tonsil, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual, diare dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
Bila terhirup formalin mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan sistem saluran pernafasan bisa mengganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru) atau edema paru ( pembengkakan paru).
Bila terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar. Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.
Meskipun dalam jumlah kecil, dalam jangka panjang formalin juga bisa mengakibatkan banyak gangguan organ tubuh. Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Gangguan otak mengakibatk efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi.
Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung. Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol adalah terjadinya radang selaput mata. Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada. (Widodo, 2006)
5. Penanganan Bila Terpapar Formalin
Bila terkena hirupan atau terkena kontak langsung formalin, tindakan awal yang harus dilakukan adalah menghindarkan penderita dari daerah paparan ke tempat yang aman. Bila penderita sesak berat, kalau perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernafasan buatan. Bila terkena kulit lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag kering, steril dan longgar.
Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah sakit atau ke dokter. Bila tertelan segera minum susu atau norit untuk mengurangi penyerapan zat berbahaya tersebut. Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.
Yang lebih menyulitkan adalah pemantauan efek samping jangka panjang. Biasanya hal ini terjadi akibat paparan terhadap formalin dalam jumlah kecil. Dalam jangka pendek akibat yang ditimbulkan seringkali tanpa gejala atau gejala sangat ringan. Jangka waktu tertentu gangguan dan gejala baru timbul. (Widodo, 2006)

BAB III
MATERI DAN METODE

A. Materi
1. Bahan yang digunakan:
• Otak-otak ikan
2. Pereaksi yang digunakan:
(a) Metode Schiff:
• Reagen Schiff, 0,2 gram Fuchsin dilarutkan dalam 100 ml aquades dipanaskan, ditambahkan Na perosolfis Na2S2O3 / Na peroxodisulfat 10% sampai warnanya pudar
• Asam Sulfat pekat 10%
(b) Metode Carik Celup/Stik
• Larutan asam
• Stik Formaldehyde
3. Peralatan:
• Mortar dan stemper
• Beaker glass
• Labu Erlenmeyer
• Pipet
• Kertas tissue
• Tabung untuk mencelupkan stik indikator

B. Metode/Cara Kerja
• Metode Schiff
1. Sampel otak-otak ikan dihancurkan sebanyak ± 25 gram, ditambahkan 100ml aquades, diaduk hingga homogeny dan dibiarkan hingga larutanyya jerniih atau dihasilkan filtrate.
2. Diambil filtrate yang jernih sebanyak 25 ml dengan menggunakan pipet, dan dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer
3. Ditambahkan 2 ml asam sulfat 10 %
4. Ditambahkan 1 ml reagen Schiff
5. Digoyang-goyang/dicampur sampai homogeny
6. Diamati ada dan tidaknya perubahan warna
7. Dicatat hasil yang diperoleh
• Metode Carik Celup
1. Sampel sebanyak ±25 gram dihancurkan, ditambahkan 50 ml aquades, diaduk hingga homogeny dan dibiarkan hingga didapatkan filtrate yang jernih
2. Diambil filtrate yang jernih tersebut sebanyak 25 ml dengan menggunakan pipet dan dimasukkan ke tabung kecil, dibagi 2.
tabung satu diberikan 1 tetes formalin untuk dibandingkan antara yang negative dan positif
3. Ditambahkan 10 tetes formaldehyde 1 pada masing-masing tabung tersebut
4. Stik formaldehyde dicelupkan pada tabung tersebut selama 3 detik
5. Stik diangkat dan digoyangkan
6. Diamatai ada tidaknya perubahan warna pada ujung stik
7. Dicatat hasil yang diperoleh

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
• Metode Schiff
Pengujian pada metode ini tidak terjadi perubahan warna pada filtrate sampel setelah ditetesi dengan reagen. Hal ini menandakan bahwa otak-otak yang dijadikan sampel tidak mengandung formalin untuk pengujian hari ini.
• Metode carik celup
Pengujian pada metode in tidak terjadi perubahan warna pada stik indicator setelah filtrate ditetesi dengan reagen formaldehida. Hal ini menunjukkan bahwa sampel memang tidak mengandung formalin untuk pengujian hari ini.

B. Pembahasan
Praktikum identifikasi formalin ini dilakukan dengan menggunakan 2 metode yaitu metode schiff dan metode carik celup. Metode Schiff dan metode carik celup merupakan metode yang sangat paling umum digunakan untuk identifikasi formalin. Kami menggunakan dua metode ini agar dapat memberikan hasil yang lebih akurat. Metode yang pertama yaitu dengan mneggunakn metode sciff. Metode Schiff merupakan metode dengan menggunakan penambahan reagne sciff yang diteteskan pada filtrate sampel. Cara kerja yang dilakukan pertama kali yaitu mencatat keadaan fisik dari sampel otak-otak yang akan diidentifikasi. Dari pengamatan tersebut diperoleh bahwa keadaan fisik otak-otak yang akan kami identifikasi yaitu:
• Warna tidak begitu putih dan bersih, terdapat bintik-bintik kehitaman yang kemungkinan adalah bumbu yang dicampurkan didalamnya
• Beraroma seperti otak-otak yang sewajarnya, tidak begitu menyengat
• Jika diremas agak sedikit keras karena kemungkinan baru diambil dari dalam freezer
• Tidak mudah hancur
Dari keadaan fisik tersebut kami tidak dapat dengan langsung mengambil kesimpulan bahwa otak-otak yang kami identifikasi mengandung formalin atau tidak mengandung formalin. Untuk dapat mengetahu dengan benar maka langkah identifikasi yang pertama yaitu otak-otak dihancurkan dengan ditumbuk menggunakan mortar dan stemper sampai halus. Ambil sampel otak-otak sebanyak kurang lebih 25 gram. Setelah sampel ditumbuk hingga halus kemudian sampel ditambahkan air/aquades sebanyak 100ml, diaduk hingga rata kemudian dibiarkan selama kurang lebih 15 menit atau sampai larutannya jernih dan dihasilkan filtrate yang jernih. Dari banyaknya filtrate yang dihasilkan tersbut diambil sebanyak ± 25 dengan menggunakan pipet dan dituangkan kedalam labu Erlenmeyer. Filtrat yang ada didalamnya kemudian ditambahkan reagen asam sulfat sebanyak 2 ml dan 1 ml reagen sciff. Setelah ditetesi dengan reagen tersebut kemudian digoyang-goyangkan labu erlenemeyr dan diamati apakah terjadi perubahan warna atu tidak. Ternyata hasil yang didapatkan tidak terjadi perubahan warna menjadi warna ungu. Hal ini berarti memang otak-otak yang diidentifikasi tidak mengandung formalin.
Untuk memperkuat dugaan ini maka dilakukan metode kedua yaitu dengan metode carik celup. Prosedurnya hamper sama dengan metode yang pertama. Hanya saja yang membedakan adalah reagen yang digunakan. Pada metode ini setelah dihasilkan filtrate diambil filtrate tersebut sebanyak 25 ml dengan menggunakan pipet dan dimasukkan ke tabung kecil, dibagi 2.
tabung satu diberikan 1 tetes formalin untuk dibandingkan antara yang negative dan positif, kemudian diitambahkan 10 tetes formaldehyde 1 pada masing-masing tabung tersebut. Stik formaldehyde dicelupkan pada tabung tersebut selama 3 detik, Stik diangkat dan digoyangkan. Diamatai ada tidaknya perubahan warna pada ujung stik. Ternyata pada stik tersebut tidak tidak terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange sampai merah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa otak-otak tersebut memang tidak mengandung formalin. Namun meskipun hasilnya memberikan arti bahwa otak-otak tidak posistif formalin tidak berarti produk otak-otak tersebut tidak pernah menggunakan formalin sebagi bahan pengawet. Hasil tersebut hanya berlaku pada pengujian hari ini.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari kegiatan praktikum tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1. Otak-otak ikan yang kami identifikasi adalah negative formalin untuk pemeriksaan hari ini
2. Untuk mengidentifikasi formalin pada makanan ataupun minuman dilakukan dengan dua metode yang paling umum yaitu metode Schiff dan metode carik celup
3. Jenis makanan selain otak-otak yang menjadi sasaran penggunaan formalin diantaranya yaitu ikan asin, tahu, mie basah, ikan basah, daan daging ayam

B. Saran
Untuk mencegah adanya penyalahgunaan formalin untuk bahan tambahan pangan sebaiknya pemerintah berperan yaitu dengan memberikan sanksi terhadap pelaku penyalahgunaan formalin. Kegiatan pengawasan peredaran formalin sebaiknya lebih diperketat.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/39035410/Boraks-Dan-Formalin. Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://hakimsimanjuntak.blogspot.com/2010/11/pengaruh-boraks-dan-formalin-pada.html. . Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=identifikasi%20boraks%20dan%20formalin%20pada%20krupuk&source=web&cd=7&sqi=2&ved=0CEgQFjAG&url=http%3A%2F%2Fwww.pom.go.id%2Fsurv%2Fevents%2Ffoodwatch%25201st%2520edition.pdf&ei=bPf7Tu67M8rYrQfepPnzDw&usg=AFQjCNEtOi512kchwnGUmowicU3TfJzXgw&sig2=plMHqKJCrRYVUGgVW1mCzA&cad=rja. . Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://yunisiklil.blogspot.com/2010/10/boraks-dan-formalin.html. . Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://molylovelyme.blogspot.com/2011/10/bahaya-boraks-dan-formalin-pada-makanan.html. . Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=boraks%20pada%20kerupuk%20filetype%3Apdf&source=web&cd=4&ved=0CDYQFjAD&url=http%3A%2F%2Frepository.usu.ac.id%2Fbitstream%2F123456789%2F17797%2F4%2FChapter%2520II.pdf&ei=I_n7Tun_DoyqrAeC2LXXDw&usg=AFQjCNE1ytrMRRLobVqDOBAIG4oyQzronA&sig2=xvU9L9QBDOeHc6sKfhLhfg&cad=rja. . Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=boraks%20pada%20kerupuk%20filetype%3Apdf&source=web&cd=9&ved=0CFsQFjAI&url=http%3A%2F%2Fblogs.unpad.ac.id%2Fboenga%2Ffiles%2F2011%2F08%2FKenali-Makanan-Mengandung-Zat-Berbahaya.pdf&ei=I_n7Tun_DoyqrAeC2LXXDw&usg=AFQjCNF9a3zogycby8M-xhe-9iTMbSEvyQ&sig2=pD82JkEjIn8FYz5JtjrQeA&cad=rja. . Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://catatankimia.com/catatan/pengaruh-formalin-terhadap-tubuh.html. Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://www.pantonanews.com/807-bahaya-formalin-dalam-makanan. Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://ariffadholi.blogspot.com/2009/10/jurnal-analisis-kualitatif-adanya_06.html. Diakses tanggal 29 Desember 2011
http://andriezens.wordpress.com/2009/01/17/makalah-tentang-masalah-formalin/. Diakses tanggal 29 Desember 2011

Hello world!

Posted On Januari 6, 2012

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.